Cari buku favoritmu, cek ketersediaan stok, atau baca E-Book langsung dari perangkatmu.
Eugenia Rakhma Subarna & Soie Dewayani & Cicilia Erni Setyowati
Salam! Sekarang kalian sudah meninggalkan bangku sekolah dasar. Di bangku SMP ini, kalian mendapatkan teman baru dan materi belajar baru. Buku Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII ini akan mengajak kalian mengekplorasi ragam bacaan dari berbagai tema yang ada di sekitar kalian. Diskusikan bacaan ini dengan teman dan guru kalian, ya. Tentunya, bacaan-bacaan ini dapat menambah pengetahuan kebahasaan dan kesastraan, serta menginspirasi kalian untuk mencipta dan berkarya. Semoga bacaan-bacaan ini makin membuat kalian gemar membaca dan menulis. Selamat menikmati lingkungan belajar yang baru! Semoga petualangan belajar kalian di kelas tujuh menyenangkan.
Elly Delfia & Maya Lestari Gusfitri
Salam hangat untuk semua! Selamat datang di kelas VIII. Selamat melanjutkan petualangan seru belajar bahasa Indonesia. Semoga proses belajar kalian menyenangkan. Kalian akan mempelajari beberapa teks menarik dalam Buku Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs Kelas VIII ini, seperti menulis teks laporan hasil observasi, menulis iklan dan slogan, menulis artikel ilmiah populer, mengulas karya fiksi, menciptakan puisi, dan menulis teks pidato. Materi yang disajikan pada setiap bab mengajak kalian untuk meningkatkan rasa toleransi, rasa peduli, dan saling menghargai. Kalian juga diajak untuk berpikir kritis sebagai cermin Profil Pelajar Pancasila. Kalian juga mempelajari nilai-nilai estetika atau keindahan yang terkandung dalam karya fiksi dan puisi. Selain itu, kalian juga belajar menulis teks pidato sekaligus mempraktikkan cara berpidato yang baik. Semoga hari-hari kalian menyenangkan belajar bahasa Indonesia di kelas VIII. Semangat terus dalam belajar dan budayakan gemar membaca!
Yudha Pangesti Nurul Chomaria Tyas K. W. Ahmad Husni
Sekilas kisah tentang Yami yang ingin memiliki tubuh ideal seperti idolanya, yaitu Bang Jago. Karena menurut Yami, memiliki tubuh yang ideal akan membuatnya terlihat gagah dan dikagumi teman-temannya. Berbagai cara akan Yami lakukan untuk menjadi seperti apa yang diimpikannya, mulai dari berolahraga serta teratur dalam menjaga pola makanan yang bernutrisi. Namun, halangan terberat Yami dalam menjalani latihan ini justru dari dirinya sendiri, serta lingkungan sekitarnya yang selalu mengalihkan Yami dari tujuannya sehingga membuat Yami sulit konsisten untuk terus berolahraga dan makan makanan yang bernutrisi. Mampukah Yami menjadi seperti apa yang diimpikannya? Bagaimana cara Yami melewati berbagai godaan yang selalu mengalihkan Yami dari tujuannya. Yuk, ikuti kisah Yami!
Dewi Cholidatul
Tradisional tak melulu bermakna kolot. Justru, berkelanjutan! Kesadaran itu saya dapatkan saat menulis tentang desa-desa adat yang ada di Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Namun, bagaimana isu ini bisa ditarik sebagai isu menarik bagi remaja? Diskusi asyik dengan mentor, Mbak Soie Dewayani (juga masukan dari Abah Tasaro GK di presentasi awal), membuka mata saya bahwa menghadirkan cerita bermuatan lokal tetapi tetap menarik tidaklah mudah. Tak segampang itu! Lalu, saya melirik seorang anak remaja yang sedang bertumbuh, mencari jati diri, dan gandrung pada hal-hal kekinian. Dia membaca, menonton anime, dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Asia Timur yang tak saya kenal. Belakangan, dia sengaja memotong rambutnya sendiri tidak presisi, layaknya tokoh anime. Kegemarannya menggambar menunjang hobi barunya. Itu, dia! Anime! Dan begitulah cerita kampung adat dan dunia anime bertemu dalam buku ini. Bagaimana sosok Jalu, Ijad, dan Utari, yang sedang mencari jati diri, sedang kebingungan antara mencintai tanah kelahirannya dan merespons perubahan zaman di sekitarnya. Berbagai proses itu juga ditangkap dengan baik oleh Felishia. Goresan tangannya memberikan nyawa sehingga cerita ini tampak lebih hidup, sekaligus memberikan jeda bagi pembaca dengan gambar-gambar yang ciamik dan keren. Kepada merekalah, saya berterimakasih. Rasa terimakasih juga saya sampaikan kepada dua narasumber dari Kampung Naga, Pak Ucu Suherlan dan Kang Ijad. Tak lupa, saya juga berterimakasih pada art-director, Siti Wardiyah, layouter Frisna YN, Mas Akunnas Pratama selaku penanggung jawab buku novel bergambar jenjang D, serta seluruh tim Pusat Perbukuan atas kesempatan yang diberikan. Semoga buku ini menginspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk mengejar mimpinya, tetapi tetap bangga terhadap identitasnya.
Ina Inong Hary C. krisna
Ini cerita tentang si Kabayan. Anak yang suka sekali makan dan jajan. Tidak ada pekerjaan yang disukai, selain bersantai sepanjang hari. Namun, pada suatu hari, Ada peristiwa yang terjadi.
73 penulis berasal dari 9 provinsi yang mewakili 30 bahasa daerah
Salah satu materi pembelajaran pada MB-17: RBD ini adalah menulis cerita pendek (cerpen). Sebagai sebuah keterampilan berbahasa, menulis cerpen merupakan kombinasi dan refleksi dari kemampuan lingual dan imajinasi yang kompleks agar bisa menghasilkan cerita yang menarik dan enak dibaca. Untuk mencapai kemampuan ini, para penulis muda tersebut perlu dibina dan diarahkan secara benar dengan bimbingan para penulis (cerpenis) yang sudah berpengalaman menghasilkan karya-karya yang teruji. Oleh karena itu, para pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) bidang cerpen kami fasilitasi melalui kegiatan lanjutan berupa Kemah Cerpen agar kemampuan mereka terus berkembang dan terasah dengan lebih baik. Harapan kami adalah mereka akan benar-benar menjadi tunas- tunas baru calon penerus penulis karya sastra dalam bahasa daerahnya masing-masing, baik berupa cerpen khususnya maupun karya-karya sastra lainnya, di kemudian hari. Model pembinaan yang intensif dan berkelanjutan seperti ini, kami yakini, akan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kekhawatiran hilangnya minat penutur muda bahasa daerah dalam berkarya sastra, khususnya dalam bahasa daerah mereka. Pada tahun 2023 ini, ada 73 peserta berasal dari 9 provinsi yang mewakili 30 bahasa daerah. Dari para peserta itu telah dihasilkan sebanyak 80 cerpen yang telah dikurasi oleh para sastrawan bahasa daerah masing- masing sebagaimana termuat di dalam antologi ini. Karena dihasilkan oleh tunas bahasa ibu dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia, antologi cerpen berbahasa daerah karya mereka ini layak disebut sebagai “zamrud khatulistiwa”.
KWANFWOONG LEE
Tidak ada sinopsis tersedia.
SOONBONG HEO
Tidak ada sinopsis tersedia.
YEARIMDANG
Tidak ada sinopsis tersedia.
GEURIMNAMU
Tidak ada sinopsis tersedia.
GEURIMNAMU
Tidak ada sinopsis tersedia.
GEURIMNAMU
Tidak ada sinopsis tersedia.