Tradisional tak melulu bermakna kolot. Justru, berkelanjutan!
Kesadaran itu saya dapatkan saat menulis tentang desa-desa adat
yang ada di Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Namun, bagaimana
isu ini bisa ditarik sebagai isu menarik bagi remaja?
Diskusi asyik dengan mentor, Mbak Soie Dewayani (juga
masukan dari Abah Tasaro GK di presentasi awal), membuka
mata saya bahwa menghadirkan cerita bermuatan lokal tetapi
tetap menarik tidaklah mudah. Tak segampang itu!
Lalu, saya melirik seorang anak remaja yang sedang
bertumbuh, mencari jati diri, dan gandrung pada hal-hal kekinian.
Dia membaca, menonton anime, dan menyanyikan lagu-lagu
berbahasa Asia Timur yang tak saya kenal. Belakangan, dia sengaja
memotong rambutnya sendiri tidak presisi, layaknya tokoh anime.
Kegemarannya menggambar menunjang hobi barunya.
Itu, dia! Anime! Dan begitulah cerita kampung adat dan dunia
anime bertemu dalam buku ini. Bagaimana sosok Jalu, Ijad, dan Utari,
yang sedang mencari jati diri, sedang kebingungan antara mencintai
tanah kelahirannya dan merespons perubahan zaman di sekitarnya.
Berbagai proses itu juga ditangkap dengan baik oleh
Felishia. Goresan tangannya memberikan nyawa sehingga cerita
ini tampak lebih hidup, sekaligus memberikan jeda bagi pembaca
dengan gambar-gambar yang ciamik dan keren.
Kepada merekalah, saya berterimakasih. Rasa terimakasih juga
saya sampaikan kepada dua narasumber dari Kampung Naga, Pak
Ucu Suherlan dan Kang Ijad. Tak lupa, saya juga berterimakasih
pada art-director, Siti Wardiyah, layouter Frisna YN, Mas Akunnas
Pratama selaku penanggung jawab buku novel bergambar jenjang D,
serta seluruh tim Pusat Perbukuan atas kesempatan yang diberikan.
Semoga buku ini menginspirasi bagi anak-anak Indonesia
untuk mengejar mimpinya, tetapi tetap bangga terhadap
identitasnya.
Penerbit
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi